Assalamualaikum..

Banyak orang meributkan soal passion belakangan ini. Terutama ketika muncul tokoh mas Rene Suhardono, yang mengeluarkan pemikirannya mengenai passion dan berhasil menyebarkannya karena di situlah passion-nya. Semakin banyak orang yang tersihir, namun ada juga yang memiliki pandangan berbeda mengenai passion ini.
“Passion gives us ‘something’, but passion is not everything”
Passion memang sulit didefinisikan. Kesenangan tersendiri, namun tidak bisa disamakan juga dengan rasa ketika kita melakukan hobi. Bahkan ketika melakukan sesuatu dengan passion, kita rela ga dibayar lah ibaratnya. Menjawab pertanyaan “apa passion-mu?” juga tidak mudah. Kadang diri kita sendiri ribet dengan rutinitas dan kebutuhan, sehingga sulit menemukan apa sesungguhnya passion kita.
I’m “ST”, but it’s not my passion..
‘Tersesat’ di jurusan teknik komputer dan menyandang gelar sarjana teknik (ST) menggiring saya ke sebuah profesi yang sedang dijalani saat ini. Ketika saya memutuskan untuk menjadi karyawan, sederet profesi yang berkaitan dengan ‘komputer dan kawan-kawannya’ ditawarkan. Sys admin, network engineer, software developer, programmer, system analyst, business analyst, sales engineer, system functional, system implementation, dan istilah-istilah unyu lainnya. Itulah PROFESI saya, bukan PASSION saya. Artinya apa? Saya menikmati beberapa pekerjaan di sebagai system implementater seperti sekarang, tapi tidak sampai titik dimana ‘saya rela ga dibayar’ untuk melakoni hal tersebut. Bukannya matre, tetapi lebih ke arah profesionalitas. Istilah-istilah di atas adalah job desc yang ditawarkan oleh perusahaan profesional sehingga disebut profesi. Yang dinamakan perusahaan salah satu orientasinya adalah profit. Sebagian dari profit merupakan hak dari yang ‘turut membantu mencapai profit’ tersebut. Sehingga wajar bagi siapapun yang menjalaninya mendapatkanhaknya yang tidak lain tidak bukan juga sekian persen dari rezekinya.
Di kantor yang sekarang, saya lebih senang mengisi training dengan materi non-technical (materi non-programming) kepada klien atau karyawan baru daripada duduk di belakang meja kemudian berjam-jam coding. Ketika menjadi asisten dulu jaman kuliah, saya lebih senang jaga praktikum dan mengajar responsi daripada harus ngoprek sesuatu seharian atau bahkan berhari-hari. Saya lebih senang menjadi presentator daripada mengumpulkan data-data ketika ada tugas kelompok saat kuliah (ketawan deh,haha..:p). Banyak yang beranggapan, tipe seperti ini adalah tipe yang ‘Cuma bisa ngemeng doang’,haha.. Tapi alhamdulillah, saya masih bisa memilah mana yang sekiranya bisa saya sampaikan, mana yang tidak. Saya juga berusaha untuk tidak menyampaikan apa yang belum pernah saya alami langsung. Kalau ada tawaran menjadi trainer untuk karyawan baru dengan materi programming, langsung saya tolak. Bukan tidak mau belajar. Saya sudah berusaha untuk mencintai programming dari semester 3, tapi hingga detik ini ya ga dapet poinnya. Daripada saya jadi trainer lebih banyak mudharat-nya, sung saya bilang ‘ga sanggup’,haha: ). Saya lebih senang menjadi bagian dari public and social service daripada hanya sebatas client service. Saya lebih senang berinteraksi dengan sesama manusia daripada benda mati. Sekiranya samar-samar terlihatlah ya passion saya dimana,haha..:D
Saya sepakat, jika kita bekerja sesuai passion, maka tidak ada ‘hari kerja’ dalam kehidupan kita. Seorang Albert Einstein pun, yang kita kenal sebagia ilmuan luar biasa pinter, menganggap dirinya tidak pintar, tapi hanya bermodalkan passionate dalam bidang sains. Itulah yang membuatnya getol mendalami bidang sains. Ia menganggap itu bukanlah pekerjaannya, sehingga ia merasa ‘everyday is holiday’.
Dalam kacamata saya, profesi dan passion bukan sesuatu yang bisa digabungkan. Jika passion menjadi sebuah profesi, maka lama-kelamaan feel passion itu akan samar. Melakukan apa yang menjadi passion kita di sela-sela menjalani profesi sangat dibolehkan. Bisa jadi hal tersebut menjadi pemicu semangat dalam meningkatkan performansi kita dalam bekerja. Passion merupakan suatu rasa yang terus tumbuh dan selalu ada dalam diri kita. Maka itu saya sebut di awal, “passion give us ‘something’”.
Profesi dan hobi adalah 2 hal yang masih kita miliki dalam perjalanan kehidupan kita yang menarik ini. Saya bersyukur ditakdirkan menjadi sarjana teknik dan kini berprofesi sebagai system implemeter. Saya bersyukur perlahan bisa menemukan passion dalam hal mengajar dan public speaking yang turut menunjang profesi saya. Saya bersyukur dikarunai hobi berupa menulis blog (meskipun masih sebatas blog pribadi :p) dan mendengarkan musik. “.. but passion is not everything”, tidak perlu merasa menjadi orang paling menderita sedunia ketika belum berhasil menemukan passion. Saya pun masih dalam proses pencarian. Entah sampai kapan, karena passion masih datang dan pergi, dan tidak menutup kemungkinan akan digantikan dengan passion baru yang lebih baik dan lebih ‘gw banget’.: )
That’s all my opinion. Hanya pandangan dari seorang Ratih, ga kurang ga lebih, dan bukan ahlinya soal passion2an,hha.. Tidak harus disetujui, tidak harus pula diperdebatkan. We have our own glasses, yang sudah di setting sesuai dengan kondisi ‘mata’ kita untuk melihat segala sesuatunya..Mohon maaf bagi yang kurang berkenan..:D
Wassalamualaikum..: )