It’s.Only.About.Art

Assalamualaikum Wr Wb…

Ibarat laptop saya tanpa windows media player/iTunes..

Ibarat laptop saya belum terinstall Corel Draw..

Ibarat punya gitar tapi tidak bisa memainkannya..

Ibarat baca Al-Quran  tanpa nada..

Selama niat lurus karena karya musik-nya..

Selama tidak melupakan aktivitas bekerja penggemarnya..

Selama tidak mengganggu aktivitas ibadah para penggemarnya..

Selama tidak menjadi pelarian para penggemarnya karena futur..

Selama tidak menjauhkan penggemarnya dari-Nya..

Tidak peduli mau dianggap sebagai liberal, moderat, sekular, atau istilah2 yang belum atau tidak (mau) saya pahami…

Cuma satu gambar yang bisa saya kasih tentang pro-kontra konser Lady Gaga..

By : bukan.penggemar.Lady.Gaga.tapi.penggemar.seni *panjang amat,haha..:p

Wassalamualaikum Wr Wb..: )

Categories: The other side of me..^^ | Leave a comment

Passion in My ‘Glasses’

Assalamualaikum..

Banyak orang meributkan soal passion belakangan ini. Terutama ketika muncul tokoh mas Rene Suhardono, yang mengeluarkan pemikirannya mengenai passion dan berhasil menyebarkannya karena di situlah passion-nya. Semakin banyak orang yang tersihir, namun ada juga yang memiliki pandangan berbeda mengenai passion ini.

“Passion gives us ‘something’, but passion is not everything”

Passion memang sulit didefinisikan. Kesenangan tersendiri, namun tidak bisa disamakan juga dengan rasa ketika kita melakukan hobi. Bahkan ketika  melakukan sesuatu dengan passion, kita rela ga dibayar lah ibaratnya. Menjawab pertanyaan “apa passion-mu?” juga tidak mudah. Kadang diri kita sendiri ribet dengan rutinitas dan kebutuhan, sehingga sulit menemukan apa sesungguhnya passion kita.

I’m “ST”, but it’s not my passion..

‘Tersesat’ di jurusan teknik komputer dan menyandang gelar sarjana teknik (ST) menggiring saya ke sebuah profesi yang sedang dijalani saat ini. Ketika saya memutuskan untuk menjadi karyawan, sederet profesi yang berkaitan dengan ‘komputer dan kawan-kawannya’ ditawarkan. Sys admin, network engineer, software developer, programmer, system analyst, business analyst, sales engineer, system functional, system implementation, dan istilah-istilah unyu lainnya. Itulah PROFESI saya, bukan PASSION saya. Artinya apa? Saya menikmati beberapa pekerjaan di sebagai system implementater seperti sekarang, tapi tidak sampai titik dimana ‘saya rela ga dibayar’ untuk melakoni hal tersebut. Bukannya matre, tetapi lebih ke arah profesionalitas. Istilah-istilah di atas adalah job desc yang ditawarkan oleh perusahaan profesional sehingga disebut profesi. Yang dinamakan perusahaan salah satu orientasinya adalah profit. Sebagian dari profit merupakan hak dari yang ‘turut membantu mencapai profit’ tersebut. Sehingga wajar bagi siapapun yang menjalaninya mendapatkanhaknya yang tidak lain tidak bukan juga sekian persen dari rezekinya.

Di kantor yang sekarang, saya lebih senang mengisi training dengan materi non-technical (materi non-programming) kepada klien atau karyawan baru daripada duduk di belakang meja kemudian berjam-jam coding. Ketika menjadi asisten dulu jaman kuliah, saya lebih senang jaga praktikum dan mengajar responsi daripada harus ngoprek sesuatu seharian atau bahkan berhari-hari. Saya lebih senang menjadi presentator daripada mengumpulkan data-data ketika ada tugas kelompok saat kuliah (ketawan deh,haha..:p). Banyak yang beranggapan, tipe seperti ini adalah tipe yang ‘Cuma bisa ngemeng doang’,haha.. Tapi alhamdulillah, saya masih bisa memilah mana yang sekiranya bisa saya sampaikan, mana yang tidak. Saya juga berusaha untuk tidak menyampaikan apa yang belum pernah saya alami langsung. Kalau ada tawaran menjadi trainer untuk karyawan baru dengan materi programming, langsung saya tolak. Bukan tidak mau belajar. Saya sudah berusaha untuk mencintai programming dari semester 3, tapi hingga detik ini ya ga dapet poinnya. Daripada saya jadi trainer lebih banyak mudharat-nya, sung saya bilang ‘ga sanggup’,haha: ). Saya lebih senang menjadi bagian dari public and social service daripada hanya sebatas client service. Saya lebih senang berinteraksi dengan sesama manusia daripada benda mati. Sekiranya samar-samar terlihatlah ya passion saya dimana,haha..:D

Saya sepakat, jika kita bekerja sesuai passion, maka tidak ada ‘hari kerja’ dalam kehidupan kita. Seorang Albert Einstein pun, yang kita kenal sebagia ilmuan luar biasa pinter, menganggap dirinya tidak pintar, tapi hanya bermodalkan passionate dalam bidang sains. Itulah yang membuatnya getol mendalami bidang sains. Ia menganggap itu bukanlah pekerjaannya, sehingga ia merasa ‘everyday is holiday’.

Dalam kacamata saya, profesi dan passion bukan sesuatu yang bisa digabungkan. Jika passion menjadi sebuah profesi, maka lama-kelamaan feel passion itu akan samar. Melakukan apa yang menjadi passion kita di sela-sela menjalani profesi sangat dibolehkan. Bisa jadi hal tersebut menjadi pemicu semangat dalam meningkatkan performansi kita dalam bekerja. Passion merupakan suatu rasa yang terus tumbuh dan selalu ada dalam diri kita. Maka itu saya sebut di awal, “passion give us ‘something’”.

Profesi dan hobi adalah 2 hal yang masih kita miliki dalam perjalanan kehidupan kita yang menarik ini. Saya bersyukur ditakdirkan menjadi sarjana teknik dan kini berprofesi sebagai system implemeter. Saya bersyukur perlahan bisa menemukan passion dalam hal mengajar dan public speaking yang turut menunjang profesi saya. Saya bersyukur dikarunai hobi berupa menulis blog (meskipun masih sebatas blog pribadi :p) dan mendengarkan musik. “.. but passion is not everything”, tidak perlu merasa menjadi orang paling menderita sedunia ketika belum berhasil menemukan passion. Saya pun masih dalam proses pencarian. Entah sampai kapan, karena passion masih datang dan pergi, dan tidak menutup kemungkinan akan digantikan dengan passion baru yang lebih baik dan lebih ‘gw banget’.: )

That’s all my opinion. Hanya pandangan dari seorang Ratih, ga kurang ga lebih, dan bukan ahlinya soal passion2an,hha.. Tidak harus disetujui, tidak harus pula diperdebatkan. We have our own glasses, yang sudah di setting sesuai dengan kondisi ‘mata’ kita untuk melihat segala sesuatunya..Mohon maaf bagi yang kurang berkenan..:D

Wassalamualaikum..: )

Categories: Just Motivation... | Leave a comment

One of Human Being : Being a “Mirror”

Assalamualaikum..

Gambar di atas saya temukan saat googling (saya lupa waktu itu lagi googling untuk apa). Yg jelas, begitu liat tuh gambar, saya langsung menangkap banyak pesan yang disampaikan di gambar tersebut (sok2an, padahal mah nebak+ngarang2 doang,haha..:p). Yup, i have some opinion about that picture..

Human being atau lebih dikenal dengan kodrat manusia merupakan kesimpulan yang udah saya ringkas dari makna gambar di atas. Mayoritas orang pasti sudah sering mendengar kata-kata ini “Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk orang lain”. Perhatikan kalimat baris kedua dari gambar di atas,

…to be the candle or the mirror that reflects it

Manusia bukan lilin, karena lilin ‘menghabisi’ dirinya sendiri ketika memancarkan cahaya dari api yang terus menyala. Sedangkan manusia justru ‘menyehatkan’ dirinya sendiri, karena ilmunya justru bertambah ketika menyebarkan cahaya. Manusia adalah “the mirror”, ia memantulkan cahaya-cahaya yang ada di sekitarnya. Kita lihat sosok panutuan umat muslim seluruh dunia, Nabi Muhammad SAW. Islam adalah cahaya yang dipancarkan melalui Al-Quran dan Allah SWT menjadikan Rasulullah SAW sebagai ‘cermin’ untuk memantulkan cahaya-cahaya tersebut. Gravitasi adalah cahaya baru di dunia sains pada zaman dahulu kala, kemudian lahirlah Issac Newton sebagai cermin untuk memantulkan cahaya ‘gravitasi’ tersebut. Ilmu pengetahuan adalah cahaya yang dipancarkan melalui lembaga pendidikan dengan guru sebagai cermin untuk memantulkan cahaya ilmu pengetahuan tersebut. Masih buuaanyak lagi analogi yang lain.

Yang perlu atau bahkan sangat perlu kita sadari yaitu tiap manusia memiliki peran sebagai cermin tersebut. Cahaya yang dipantulkan pun berbeda-beda, sesuai ‘destiny’ yg diberikan ke masing-masing individu. Minimal cahaya tersebut adalah pengalaman. Pengalaman dari masing-maisng orang mungkin banyak yang mirip atau merasa senasib, tapi tidak ada yang sama persis. Dari pengalaman itu maka akan selalu ada ilmu-ilmu yang terus tumbuh menjadi cahaya baru untuk siap dipantulkan. Tinggal si manusia-nya, mau atau tidak menjadikan dirinya sebagai cermin. Jika manusia tidak mau menjadikan dirinya sebagai cermin, maka selamanya ia hanya akan menjadi lilin tanpa cahaya baru, diam, dan lama-kelamaan akan rapuh dimakan usia. Seorang karyawan tidak akan menjadi cermin, selama niatnya hanya gaji untuk memperkaya diri sendiri, tanpa mengerti manfaat dari apa yang dikerjakannya, tanpa ada niatan tulus memberikan yang terbaik untuk pekerjaannya. Seorang pengusaha tidak akan menjadi cermin, selama niatnya hanya profit, profit, dan profit, tanpa inovasi baru, tanpa motivasi untuk pengembangan karyawan-karyawannya. Seorang mahasiswa tidak akan menjadi cermin, selama dirinya hanya memikirkan kekayaan ilmu-nya sendiri, tanpa memandang sekitarnya. Pun sama halnya dengan saya. Seorang Ratih tidak akan menjadi cermin, selama ia tidak melakukan apa yang ia tuliskan..: )

Banyak cara menjadi cermin. Karena ilmu dan pengalaman tidak akan habis, meskipun habis-habisan kita mengeluarkannya. Semua menjadi pilihan masing-masing individu, mau menjadi cermin yang terus memantulkan cahaya dan akan pecah jika sudah waktunya atau hanya menjadi lilin yang terus-terusan ada cahaya namun akan menghabisi dirinya dan meleleh dengan sia-sia tanpa ada yang memantulkannya. As long as there are brain, heart, and soul, there’re also “your own lights”..: )

Selamat menjadi cermin yang memantulkan cahaya kebaikan..:D

Wassalamualaikum..

Categories: Just Motivation... | Leave a comment

Climbing the Walls – Backstreet Boys

Album : Never Gone (2005)

Intro : Dm    Bb    F    Dm    Am    C

F                                                                     Dm

Close your eyes, make a wish | This could last forever

F                                                  Dm       Bb

If only you could stay | with me now

F                                                  Dm

So tell me what it is | keep us from each other now

Bridge

Am   Bb

C          Dm                              Am

Yeah, c’mon and get me

Bb                         C

You under my skin…

Reff

Dm                                                                  Am

No i can’t let you go | you’re a part of me now

Bb                                            F     C

Caught the taste of your kiss

Dm                                                                Am

And i don’t wanna know | the reason why i

Bb                                      F

Can’t stay forever like this

G#m                                          Dm   C

Now i’m climbing the walls cause i miss | you..

F                                                                Dm

Take my hand, take my life | Just don’t take forever

F                                                             Dm  Bb

And let me feel your pain | kept inside (Oh well..)

F                                              Dm

It’s gotta be away | you and i together now

Back to Bridge >> Reff

 

Dm                       Bb                F                        C

It’s an illusion | how can i feel this away?

Bb

If can’t have you..

Dm                        Bb                F                       C

It’s an illusion | nothing is real this away

Bb

If can’t have you…

Em                                                                  B

No i can’t let you go | you’re a part of me now

C                                                    G     D

Caught the taste of your kiss ( i don’t wanna know)

Em                                                                 B

And i don’t wanna know | the reason why i

C                                             G

Can’t stay forever like this (i’m climbing the walls)

Am                                          G        D

Now i’m climbing the walls cause i miss | you..

Em     C     G     Em

D

Can’t let you go, no..

Em                                                                 B

And i don’t wanna know | the reason why i

C                                             G

Can’t stay forever like this (no..no..)

Am                                          G        D            Em

Now i’m climbing the walls cause i miss | you..

Categories: Backstreet Boys | Leave a comment

“SABAR” by Motivator ‘Jalanan’

Assalamualaikum Wr Wb..

Perjalanan saya pulang kerja kemarin (Senin, 16 April 2012) ada yang sedikit berbeda. Ketika saya menaiki bis kopaja, ada seseorang yang menjemput rizki di bis tersebut. Bukan pengamen, bukan ‘pembual’, bukan pula seorang penceramah yang seringkali dibalut oleh pakaian ‘religius’. Ia (mengaku) sebagai seorang mahasiswa IKJ jurusan seni rupa. Wallahualam ia benar-benar mahasiswa atau bukan. Saya tidak menyoroti hal itu. Yang saya soroti adalah apa yang dibawakannya untuk ‘dijual’ kepada penumpang bis.

Di awal penampilannya, ia berkata “izinkan saya mengeluarkan isi kepala saya”. Jujur,yang terlintas di kepala saya saat itu, dia akan membawakan sebuah puisi (inget jaman-jaman upgrading MC PDKT’09 di bis,haha..:p). Ternyata si ‘mahasiswa’ tersebut berperan sebagai motivator. Setelah saya dengarkan, bukan sembarangan kata-kata yang ia ucapkan. Intinya cukup lah untuk memotivasi penumpang yang rata-rata mukanya pada ‘kusut’ semua di bis, hhi.. Kira-kira begini rangkumannya.

Dalam hidup ini kita ditunut untuk selalu bersabar. Namun bukan sembarang bersabar. Sabar dibagi menjadi empat.

Sabar Aktif

Tipe seperti ini selalu berusaha, meski telah gagal berkali-kali. Baginya hasil akhir bukanlah tujuan. Yang terpenting baginya adalah usaha dan terus berusaha dalam prosesnya.

Sabar Pasif

Tipe sabar pasif hanya diam menunggu hasil. Tidak ada tindakan untuk mencapai keberhasilan. Hanya memiliki keinginan namun tidak melakukan apa-apa.

Sabar Optimis

Sabar optimis adalah mereka yang memiliki strategi jika mengalami kegagalan. Sekali kegagalan tidak membuatnya berdiam diri. Ia akan menyusun strategi baru untuk mencapai keberhasilannya.

Sabar Pesimis

Sabar pesimis menunggu setelah berusaha, namun rasa pesimis seringkali hinggap di masa penantiannya. Sehingga kegagalan senantiasa menjadi sesuatu yang sangat ‘menyulitkan’ baginya.

Bagaimana dengan kita? Tipe sabar apa yang ada di diri kita? Innallahmaalshobirin..sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.

Kira-kira seperti itu yang keluar dari lisan sang motivator jalanan. Saya lupa-lupa inget untuk yang 4 poin utama, tetapi kurang lebih seperti itulah. Banyak penumpang yang di awal kemunculannya enggan untuk berbagi rizki dengannya, langsung tanpa ragu menyisihkan ongkosnya untuk disumbangkan.

Kata-katanya memang tidak sedahsyat Mario Teguh, passion-nya memang tidak sebesar Rene Suhardono, tapi usahanya untuk menjadi dahsyat di tengah-tengah kesuntukan penumpang dan semangatnya untuk mengeluarkan passion-nya manjadikan ia adalah tipe sabar optimis hingga rizki hinggap di ‘kantongnya’..: )

Semoga bermanfaat..:D

Wassalamualaikum Wr Wb..

Categories: Just Motivation... | Leave a comment

It’s only about “GOOD ATTITUDE”..

Assalamualaikum Wr Wb..

Setelah sekian lama ga nulis tentang teori kehidupan, kali ini tiba-tiba kepikiran lagi buat ‘berteori’baru,hhe..

Ide ini bermula ketika saya membaca tulisan di halaman FB guru matematika yang mengajar ketika duduk di bangku SMA. Tulisan tersebut berbunyi :

Patience is not the ability to wait, but the ability to keep a good  attitude while waiting

Akhir tahun 2011 hingga sekarang, saya sering menjumpai orang-orang yang lagi rirweuh soal patience (termasuk saya sendiri juga sih kayanya,haha). Jika dikatikan dengan judul blog dan postingan saya mengenai  “Never Ending Learning”, yang tidak lain tidak bukan adalah prinsip hidup (gaya euy :p) yang saya gunakan hingga sekarang, kurang lebih akan seperti ini:

 

Keep a good attitude while waiting for successful

Di tiap masa, di tiap fasa kehidupan seseorang pasti memiliki keinginan untuk sukses. Siswa SMA ingin sukses UAN, mahasiswa ingin sukses sidang TA, karyawan ingn sukses di karir-nya, pengusaha ingin sukses bisnisnya, orang tua ingin ‘sukses’ melihat anak-anaknya sukses, semua kalangan ingin sukses. Terus udah ngapain aja dong biar sukses? Diem aja gitu? Tanpa usaha? Yaah..ke laut aje itu mah kalo cuman punya mimpi tapi ga ngapa2in..:p . Yang jelas, masing-masing kita orang ini diwajibkan untuk berusaha atau bahasa kerennya ikhtiar. Berusaha adalah fasa dimana tanpa kita sadari merupakan proses menunggu atau waiting. Kesuksesan itu tidak mutlak, namun sebuah kepastian jika kita mau berusaha. Berusaha merupakan salah satu dari good attitude. Bayangkan jika kita hanya bermimpi sukses, namun hanya menunggu keajaiban datang tanpa usaha. Itu akan menjadi bad attitude karena hari-hari kita bisa-bisa diisi dengan hal yang jauh dari kebaikan jika hanya berdiam diri. Saya pernah mendapat nasehat, jika waktu luang kita tidak diisi dengan kebaikan, maka keburukan akan hinggap di waktu luang kita. Merasa yakin bahwa usaha telah maksimal, maka proses menunggu selanjutnya yakni let God’s hands work. Serahkan semua kepada-Nya. Kembalikan kepada Sang Pemberi Kesuksesan. JIka memang kita layak untuk meriah kesuksesan tersebut, maka Dia ga akan sungkan untuk member. Keep good attitude with pray to Allah. Bukan minta diberi kesukesan yang kita inginkan, melainkan mohon diberikan yang terbaik. God is The Creator. He creates the best success path for  each everyone of us, more than we created. : )

Keep a good attitude while wating for love

 

Baiklah, saya bukan ahlinya soal perjodohan(karena saya masih berusaha utk keep a good attitude), tapi nekat nulis tentang “love2an”,haha..:p Cinta memang tidak melulu soal jodoh, namun kali ini saya mau sok2an nulis singkat tentang pasangan hidup. Pernah dengar pepatah ini “Jodoh di tangan Tuhan”. Yup, that’s right. Semua orang pasti tidak asing lagi dengan pepatah tersebut. Tapi nih ya, kalo boleh saya tambahin “Jodoh di tangan Tuhan, tapi kalo kita ga usaha, selamanya akan di tangan Tuhan”,haha..itu seringkali dijadikan becandaan orang-orang. Di situ ada kata-kata “kalo kita ga usaha”. Bentuk good attitude apa yang bisa dilakukan? Saya tidak mau berdebat soal “menggunakan cara apa usahanya”, mo pacaran kek, mo ga boleh pacaran kek, pdkt (bukan ospek lho ya :p), HTS, that’s all your choice. Tapi ada satu usaha mutlak yang saya rasa usaha ini dilakukan oleh orang tua kita yang sudah menemukan jodohnya lebih dulu disbanding kita (ya iyalah, gimana lahir kita kalo belom nemu,hhe :p). Apa itu usahanya? Terus memperbaiki diri sendiri. Tanpa ada usaha memperbaiki diri sendiri, maka Allah juga enggan untuk mendatangkannya ke hadapan kita. Kalo kata nasehat2 para sesepuh saya, kecocokan itu bukan dicari tapi dibangun. Selama kedua insan manusia bisa membangun kecocokan atas nama cinta kepada-Nya, maka jodoh akan sung di-delivery (emangnya makanan,hhi). Terus memperbaiki diri agar pondasi untuk “membangun kecocokan atas nama cinta-Nya” itu senantiasa kokoh dan kuat. That’s what I mean, keep a good attitude while waiting for love. (gile bahasa gw berat banget ya,haha..:p)

Keep a good attitude while waiting the afterlife

Afterlife, sebuah tandan tanya besar ‘bentuk’nya seperti apa. As a muslim, saya percaya bahwa “afterlife” itu ada. Ini adalah tahapan akumulasi dari keep a good attitude sebelum-sebelumnya. Melakukan semua hal di dunia ini murni , tulus, hanya karena-Nya. Sukses di dunia hanya karena-Nya,..cinta tidak melebihi cinta kepada-Nya..Bisa gitu?manusia kan punya nafsu dan ada syaitan2 yang memang ditugaskan untuk menganggu kita? Yup..benar sekali..that’s why we have to control our self. Berusaha untuk selalu memiliki good attitude selama menunggu waktu untuk bertemu Allah The Greatest nanti..itulah kesempurnaan usaha yang bisa kita lakukan untuk menghadapi “the afterlife”..: )

Mungkin ini sebagian dari pemikiran kecil atau bahkan masih dangkal yang ada di diri saya mengenai “teori kehidupan”. Namanya juga teori, pasti dalam praktik nya tidak semulus apa yang tertulis.Tapi jangan lupa, keep a good attitude untuk mendekati kesempurnaan teori-teori tersebut..Semoga bermanfaat..:D

Wassalamualaikum Wr Wb..

Categories: Just Motivation... | Leave a comment

Tips Aman ber-Bis di Jakarta..

Assalamualaikum..
Selalu ada cerita di perjalanan pulang kerja..: )

Di tengah-tengah ke-riweuh-an masyarakat akan isu kebijakan kenaikan harga BBM, saya tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. Suatu hari (tepatnya hari Rabu, 28 Maret 2012 kemarin), saya lagi diuji sama Allah tentang ‘kewaspadaan’. Intinya adalah saya nyaris kecopetan. Alhamdulillah Allah masih sebatas memberi ujian berupa ‘hampir’ dan Alhamdulillah juga berhasil terlewati ujian itu. Bukannya mau curhat intinya, tapi mau ngasih tips aja, supaya aman menaiki kendaraan umum di Jakarta yang (katanya) keras ini.. Cekidot..

 

1. Siapkan ongkos di tempat yang mudah terjamah oleh pribadi.

Selama ada saku di baju, rok, celana, kaos, kerudung (ya kali,,haha..:p), atau dimanapun di pelindung tubuh kita, sebaiknya letakkan di situ ongkosnya. Misalnya nih, total ongkos saya 8000, berarti ambil uang 8000 atau kalo ga ada receh 10ribu-an dari dompet, taro di saku kita.

2. Letakkan dompet di tempat yang tidak terlihat langsung ketika tas terbuka

Bagi laki-laki memang sering menaruh dompet di saku belakang celana. Itu memang lebih aman karena lebih ‘terasa’ jika ada yang berusaha buat mengambilnya. Nah, untuk perempuan, ada baiknya diletakkan di bagian yang tidak terlihat langsung ketika tas terbuka sedikit saja. Kalo perlu cukup kita saja sama Tuhan yang tau tempatnya,hehe..

3. Bagi pengguna tas ransel, pindahkan untuk sementara ke depan

Kondisi ini memang kurang nyaman untuk perempuan (bagi saya pribadi lho ya, karena pekerjaan yang menuntut membawa laptop cukup ‘ringan’ :p), tapi tidak ada salahnya demi keamanan berkendara. Hal ini juga memudahkan kita jika ada yang ‘grepe2′ tas kita dan bisa langsung cegah tindakannya.

4. Minimalisir main HP (BB/Android/Apple/Mangga/Pisang/Kesemek….*lho,haha) saat di bis

Selain memunculkan ‘kesempatan’, hal ini juga membuat kita agak ‘meleng’ terhadap sekitar. Apalagi kalo asik dengerin lagu pake gadget2 itu. Ga ‘ngeh’ klo ada orang yang lebih pantas untuk duduk di kursi, ga sadar kalo udah sampe tujuan hingga kadang2 terlewat, ga sadar kalo daritadi udah ada yg ngliatin dan ‘mengincar’..nah lho, bahaya kan tuh..saya juga di awal2 sering maenin BB (biasa norak, baru punya :p) dan biasanya krna ‘gatel’ nge-tweet yg aneh2, entah itu soal kemacetan atau perilaku mobil sipil yg seenaknya sok2an pake pengawal (intinya sih curcol). Selain itu biasanya bales sms dari orang tua atau mantau berita lewat tweet dari situs2 berita teruatama yang berkaitan sama kondisi lalu-lintas. Tapi lama-kelamaan kaya ga ada waktu aja gitu ampe maenin BB sewaktu di jalan. Memang agak susah menghindari hal yang satu ini, karena biasanya ngeles “daripada bosen bengong malah kesambet”.

5. Usahakan jangan ‘blank’

“Maen hape disarankan jangan, trs ngapain dong biar ga kesambet?”. Masih banyak sebenernya yang bisa kita lakukan supaya ga bengong-bengong amat ketika menikmati perjalanan + kemacetannya. Misalnya kalo saya senantiasa sedia buku yang belum tuntas dibaca dan diletakkan di tas yang sehari-hari saya pakai. Jadi kalau ada waktu seperti di bis ini, saya baca tuh buku. Tapi kalau kondisi bis penuh, mengharuskan berdiri, dan tidak memungkinkan untuk baca buku, usahakan untuk senantiasa berdoa dalem ati. Yang penting pikiran jangan kosong aja…: )

Yaaa..mungkin itu beberapa saran yang bisa diterapkan dan biasanya saya terapkan. Kejadian beberapa waktu lalu ketika tas saya hampir di ‘grepe2′, itu kesalahan karena saya tidak menjalankan poin ke-5 untuk beberapa saat (entah lagi mkirin apa waktu itu ampe nge-blank dkit dan lupa berdoa dalem ati). Semoga bermanfaat dan Enjoy Jakarta lah pkoknya,haha..:p

Wassalamualaikum..

Categories: My Experiences..^^ | Leave a comment

27 Maret 2012

Wahai mahasiswa..

Jiwamu sungguh membara..

membela rakyat, membela negara..

ketika semua berputus-asa…

 

Wahai buruh..

Teriakanmu selalu bergemuruh

Seolah langit akan runtuh..

Menuntut keadilan yang utuh..

Wahai Pemuda..

Kobaran semangatmu bergelora..

Bagaikan api yang baru menyala.

Membela masyarakat dan bangsa..

 

Wahai Pak Polisi

Bukanlah kau yang kami benci..

Tapi orang-orang yang kau lindungi..

Mereka yang takut akan rakyatnya sendiri..

 

Wahai wakil rakyat..

Kami butuh tindakan cepat..

Bukan sekedar kepentingan ‘partai setempat’..

Itupun kalau sempat..

 

BBM naik..

harga kebutuhan semakin mencekik..

di tengah-tengah musim paceklik..

korban kepentingan politik..

 

Pro dan kontra bermunculan..

Seolah memecah belah persatuan..

Kami tidak mengharap imbalan..

Yang kami harapkan adalah kesejahteraan..

Categories: my opinion for Indonesia! | 2 Comments

Driving : heart, skill, mature

Assalamualaikum..

Perempuan dianggap sebagai sosok yang mendapatkan banyak ‘excuse’ untuk urusan mengemudi, terutama mobil. Misalnya saja di ruas jalan sebelah kanan, tetapi terlihat mobil yang melaju dengan kecepatan rendah. Kemudian mobil di belakangnya kesal, hingga menyalip-nya dari kiri, sambil melihat muka si pengemudi. Jika ditemukan seorang perempuan, maka reflek hampir semua bilang “oh, pantes, cewek yang bawa”. Saya pun pernah beberapa kali mengalami kesalahan. Mulai dari menabrak spion mobil orang hingga patah (mobil mahal pula :p), menyenggol spion mobil orang di lampu merah, hingga menabrak pembatas antara got depan rumah dengan halaman parkir di depan rumah (haha, ini paling konyol dan baru seminggu yang lalu kejadiannya, sebelum si Getz merah laku terjual besoknya :p).

Seiring waktu berjalan, lama kelamaan saya mulai menyimpulkan beberapa faktor yang harus dimiliki oleh seorang  pengemudi mobil (terutama perempuan).

1. Keinginan

Keinginan untuk bisa menyetir mobil harus datang dari diri sendiri. Tidak bisa dipaksakan. Seperti yang kita ketahui, segala sesuatu yang dipaksakan akan tidak baik hasilnya. Keinginan ini biasanya muncul karena kebutuhan (ga punya supir, belum menikah, ga mau ngrepotin orang, dll). Selain itu biasanya juga termotivasi oleh lingkungan. Misalnya di antara teman-teman kita mayoritas sudah bisa menyetir mobil, lama-lama pengen juga ikutan bisa. Atau mungkin bisa juga untuk “biar gaya” (haha..no comment :p)

2. Keahlian

Jangan sampai punya keinginan tapi tidak berusaha untuk memiliki keahlian. Jika keinginan kuat, maka Insya Allah effort untuk bisa mendapatkan skill menyetir akan besar juga. Keahlian ini juga merupakan proses. Semakin sering frekuensi langsung turun ke jalan, maka perlahan skill akan meningkat. Nyrempet mobil/motor, nyenggol spion, kesulitan saat parkir mundur adalah hal2 wajar bagi pengemudi mobil di awal-awal kebisaannya. Semakin sering dilatih, maka skill akan terus mumpuni.

3. Kedewasaan

Dulu sewaktu baru awal-awal bisa menyetir mobil, biasanya masih ‘ababil’ (usia 17 thn, bagi orang seumuran saya ke atas, nyebutnya ababil). Ingin kecepatan tinggi, cepat sampai tujuan, sehingga agak ‘sembrono’. Emosi ketika ada mobil di depan jalannya kaya keong, dongkol sama pengendara motor yang seringkali ‘tidak mau disalahkan’, dll. Selain itu,di awal-awal bisa mengemudi mobil, ada juga tipe yang ‘terlalu mengalah’, yaitu enggan membunyikan klakson meskipun itu sangat diperlukan. Sehingga ga nyampe-nyampe tuh ke tujuan,hhi. Seiring dengan pengalaman hidup yang mempengaruhi kedewasaan seseorang (gaya euy bahasa gw,brasa psikolog aje,haha :p), maka aspek-aspek yang kurang baik ketika di awal-awal mengendarai mobil perlahan berkurang. Jam terbang yang sudah lebih banyak juga mendukung faktor kedewasaan ini. Lebih berhati-hati, tidak ‘grasak-grusuk’, dan lebih bisa membaca situasi jalan. Bisa ‘mengalah’ pada tempatnya dan bisa ‘bekecepatan tinggi’ di saat yang tepat pula. Kira-kira poin-poin itulah yang dipengaruhi oleh kedewasaan si pengendara mobil.

Mungkin masih banyak modal yang harus dimiliki seseorang untuk mengendarai mobil (selain aspek materiil lho ya). Hampir semua orang yang mengemudi, dipastikan pernah mengalami kendala-kendala yang ‘merugikan’ memang (entah itu merugikan diri sendiri maupun orang lain). Seperti layaknya kita idup aja nih, ga selamanya mulus. Pasti ada ‘tabrakan-tabrakan’ yang secara ga langsung jadi ‘guru’ kita, sehingga tidak ‘menabrak’ atau ‘ditabrak’ di ‘tempat’ yang sama..:D #gayaEuy

Sekian pengalaman dari sayaa..semoga bermanfaat..^^

Wassalamualaikum Wr Wb..

Categories: My Experiences..^^ | 1 Comment

#23

Assalamualaikum..

17 Februari 1989 :  sosok itu masih tanpa dosa,baru merasakan kehangatan rasa cinta dari seorang Ibu, Ayah, dan keluarga, serta baru akan membuka mata untuk melihat ‘indahnya’ dunia. Kontrak untuk menempati Bumi Allah baru saja ‘disepakati’.

Tujuh tahun pertama dimulai. Didikan dari orang tua dan keluarga perlahan membentuk pola pikirnya untuk bersiap diterjunkan ke dunia bertajuk ‘sekolahan’. Serangkai kenangan manis masa-masa ‘golden age’ hanya bisa terekam di memorinya. Terlalu banyak rasanya jika dituangkan hanya dalam sekedar tulisan.

Memasuki tahun ke-7 maka dimulailah fasa hidupnya sebagai ‘anak sekolahan’. Mulai dari putih merah, putih biru, dan putih abu-abu.Guru dan teman adalah sosok ‘pendidik’ baru dalam dunianya. Konflik, hobi, cinta monyet, idola, organisasi, akademis merupakan ‘amunisi’ baru yang turut membentuk kepribadian serta pola pikirnya. Perlahan ‘file baru’ kembali terekam di memorinya.

Semua itu terjadi hingga dia memasuki tahun ke-18. Tahun ini dia dituntut untuk melepas dunia ‘anak sekolah’ menjadi ‘anak kuliah’. Dengan prinsip hidup yang ‘let it flow’, arus hidupnya membawanya kepada sebuah keputusan untuk meninggalkan rumah ‘sejenak’. Meninggalkan rumah untuk menjadi ‘anak kuliahan’. Sebuah keputusan yang dia tentukan sendiri, maka dia harus bertanggung jawab pula akan keputusannya. Dijalani dan dinikmati.

Empat tahun hingga memasuki tahun ke-22. Empat tahun yang ‘tidak biasa’ menurutnya. Apa yang ia dapat selama empat tahun tersebut, lebih dari apa yang ia kira. Pencarian jati diri, menemukan ‘untuk apa hidup di Bumi ini’, serta ‘mau jadi apa nanti’, merupakn 3 hal utama yang ia dapat. Sudah banyak di blog ini yang menggambarkan apa yang ia dapat selama 4 tahun. Hingga akhirnya ia harus ‘kembali’ ke ‘rumah’-nya. Sepulangnya dari dunia ‘anak kuliah’, berbagai macam opini menghinggapi dirinya.  Kerasa kepala, idealis, dan lebih berani berbicara, kira-kira perubahan itulah yang terlihat menonjol dari kacamata orang ‘rumah’ nya. Ada yang bilang ‘bertambah baik’, ada pula yang menganggap ‘masih belum lebih baik’. Tidak masalah. Selama dia masih bisa mengendalikan diri dan mem-filter apa yang orang lain senangi dan tidak dari dirinya, insyaAllah ia akan terus menjadi ‘anak sekolah’ dan ‘anak kuliah’ untuk meraih cita-citanya, bedanya kini ia benar-benar berada di ‘university of real life’.

Memasuki tahun ke-23, tak terasa inilah tahun pertamanya ia memasuki ‘dunia nyata’. Setelah di tempa oleh lingkungan keluarga di 7 tahun pertama, 12 tahun di dunia ‘anak sekolahan’, serta 4 tahun ditempa dunia ‘anak kuliahan’, kini saatnya ia ditempa di ‘university of life’. Ia sudah memutuskan untuk perlahan meninggalkan ‘zona nyaman’nya di 22 tahun masa lalunya. Ia berikrar untuk mengaplikasikan apa yang ia dapat di 22 tahun sebelumnya dan akan terus belajar dari ‘university of life’nya. Begitu banyak yang ia inginkan dan cita-citakan, namun setelah dirangkum, keinginannya hanya satu : menjadi sebaik-baiknya manusia tiap harinya untuk mendapat tempat terbaik di hari akhir-Nya bersama orang-orang yang ia sayangi semasa ‘kontrak hidup’nya.

Mungkin memang ia belum bisa bermanfaat untuk orang-orang sekitarnya, termasuk saudara, keluarga, serta kerabat lainnya. Namun ia berprinsip akan selalu belajar untuk bisa mewujudkan hal itu. Itulah mengapa blog ini bertajuk “Never Ending Learning”.

Maafkan hamba jika 23 tahun ini masih terlalu banyak hal sia-sia yang dilakukan. Maka hamba akan terus membutuhkan cahaya-Mu untuk menjalani jalan hidup ini hingga tiba di tempat terindahMu,Aamiin

Wassalamualaikum Wr Wb.

Categories: The other side of me..^^ | 2 Comments

Blog at WordPress.com. Theme: Adventure Journal by Contexture International.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.